Bila Terjadi Gempa Bumi

0 komentar

KOMPAS.com - Jika gempa bumi menguncang secara tiba-tiba, berikut ini 10 petunjuk yang dapat dijadikan pegangan di manapun Anda berada.

Di dalam rumah
Getaran akan terasa beberapa saat. Selama jangka waktu itu, anda harus mengupayakan keselamatan diri anda dan keluarga anda. Masuklah ke bawah meja untuk melindungi tubuh anda dari jatuhan benda-benda. Jika anda tidak memiliki meja, lindungi kepala anda dengan bantal.

Jika anda sedang menyalakan kompor, maka matikan segera untuk mencegah terjadinya kebakaran.

Di sekolah
Berlindunglah di bawah kolong meja, lindungi kepala dengan tas atau buku, jangan panik, jika gempa mereda keluarlah berurutan mulai dari jarak yang terjauh ke pintu, carilah tempat lapang, jangan berdiri dekat gedung, tiang dan pohon.

Di luar rumah
Lindungi kepada anda dan hindari benda-benda berbahaya. Di daerah perkantoran atau kawasan industri, bahaya bisa muncul dari jatuhnya kaca-kaca dan papan-papan reklame. Lindungi kepala anda dengan menggunakan tangan, tas atau apapun yang anda bawa.

Di gedung, mall, bioskop, dan lantai dasar mall
Jangan menyebabkan kepanikan atau korban dari kepanikan. Ikuti semua petunjuk dari petugas atau satpam.

Di dalam lift
Jangan menggunakan lift saat terjadi gempa bumi atau kebakaran. Jika anda merasakan getaran gempa bumi saat berada di dalam lift, maka tekanlah semua tombol. Ketika lift berhenti, keluarlah, lihat keamanannya dan mengungsilah. Jika anda terjebak dalam lift, hubungi manajer gedung dengan menggunakan interphone jika tersedia.

Di kereta api
Berpeganganlah dengan erat pada tiang sehingga anda tidak akan terjatuh seandainya kereta dihentikan secara mendadak. Bersikap tenanglah mengikuti penjelasan dari petugas kereta. Salah mengerti terhadap informasi petugas kereta atau stasiun akan mengakibatkan kepanikan.

Di dalam mobil
Saat terjadi gempa bumi besar, anda akan merasa seakan-akan roda mobil anda gundul. Anda akan kehilangan kontrol terhadap mobil dan susah mengendalikannya. Jauhi persimpangan, pinggirkan mobil anda di kiri jalan dan berhentilah. Ikuti instruksi dari radio mobil. Jika harus mengungsi maka keluarlah dari mobil, biarkan mobil tak terkunci.

Di gunung/pantai
Ada kemungkinan longsor terjadi dari atas gunung. Menjauhlah langsung ke tempat aman. Di pesisir pantai, bahayanya datang dari tsunami. Jika anda merasakan getaran dan tanda-tanda tsunami tampak, cepatlah mengungsi ke dataran yang tinggi.

Beri pertolongan
Sudah dapat diramalkan bahwa banyak orang akan cedera saat terjadi gempa bumi besar. Karena petugas kesehatan dari rumah-rumah sakit akan mengalami kesulitan datang ke tempat kejadian, maka bersiaplah memberikan pertolongan pertama kepada orang-orang yang berada di sekitar anda.

Dengarkan informasi
Saat gempa bumi besar terjadi, masyarakat terpukul kejiwaannya. Untuk mencegah kepanikan, penting sekali setiap orang bersikap tenang dan bertindaklah sesuai dengan informasi yang benar. Anda dapat memperoleh informasi yag benar dari pihak yang berwenang atau polisi. Jangan bertindak karena informasi orang yang tidak jelas.

Sumber : BNPB

From : http://regional.kompas.com/read/xml/2009/09/03/00162663/bila.terjadi.gempa.bumi

Moral Education di Jepang

0 komentar
Setiap hari rabu di 2 pekan per bulan, saya mengikuti kuliah yg dikhususkan untuk ryuugakusei (foreign student), dan terutama bagi peserta Teacher Training. Bulan Juli ini ada suatu kuliah menarik dari Prof Mina Hattori, seorang wanita yg tertarik dengan pendidikan Islam. Beliau pernah mengadakan penelitian di sebuah pesantren putri di Padang.Hari itu, sensei membawa beberapa bundel buku tua yg ternyata adalah textbook moral education (doutokukyouiku) yg dipakai di sekolah Jepang sejak Meiji era.

Content dari buku yg dipakai untuk anak SD terkesan sangat sederhana. Anak kelas 1 SD diajari ttg perilaku kecil yg sehari-hari mereka temukan di lingkungannya, misalnya apa yg harus dilakukan jika mereka sedang bermain, dan memecahkan jendela tetangga ? Segera minta maaf, tidak boleh lari dari tanggung jawab. Contoh lain jika mendapati hewan terperangkap di dalam ruangan maka harus segera membuka pintu atau jendela untuk meloloskan mereka. Bahan bacaan sangat sederhana dan ditulis dg huruf katakana, dilengkapi dg gambar yg menarik dan berupa cerita dg beberapa tokoh. Ketika membaca itu seolah-olah anak digiring untuk menjadi pelaku utama dalam cerita.

Moral education di Jepang saat ini dianggap sangat urgent setelah belakangan ini terjadi dekadensi moral di kalangan pelajar Jepang. Angka bullying, truancy, violancy, dan suicide di sekolah meningkat secara signifikan, terutama di tingkat SMP, sehingga monbukagakusho menekankan kembali pembelajaran moral education dan guru diharapkan lebih memperhatikan perkembangan personality siswa.

Selain ttg moral education sensei juga memperkenalkan textbook sejarah, yg isinya didominasi dengan pesan berbau nasionalisme, pengabdian kpd tenon (emperor) dan beberapa obligatory untuk mengikuti wajib militer untuk keperluan perang .Setelah WW II berakhir, textbook mengalami reformasi, guru di kelas meminta siswa untuk memblok dg tinta hitam bagian yg berkaitan dg pengabdian kepada tenon, kegiatan ibadah di shrine yg juga mengaju kpd penghormatan kpd tenon, dan juga ilustrasi yg bermakna sama. Sehingga mereka hanya mempelajari hal2 yg berkaitan dg hubungan manusia sehari2.

Buku moral education yg dipakai sekarang adalah buku yg disusun oleh monbukagakusho (MInistry of Education) sejak 10-20 th yg lalu. Judul buku juga dibuat menarik. Tidak seperti di Indonesia buku PKPn tentu berjudul sama, PKPn. Tapi di Jepang judul buku disesuaikan dg isinya. Misalnya untuk kelas 3 SD judul buku adalah “Bagaimana menjaga keselamatan pribadi” (Jibun no Ansin). Content buku secara garis besar adalah bgm berperilaku di jalan, di dalam kendaraan umum. Apa saja permainan yg aman di dalam kelas ketika hari hujan. Bagaimana mereka berangkat dan pulang sekolah dg aman. Perbuatan apa yg tidak boleh dilakukan di tempat umum yg akan mengganggu orang lain.

Sangat berbeda dengan buku PMP yg saya pelajari dulu waktu SD, yg isinya menghafal butir2 Pancasila, atau menghafal norma2 baik di masyarakat tp pada kenyataannya kadang kala lupa untuk menerapkannya. Demikian pula dg buku agama yg isinya dominan hafalan ayat dan bacaan yg membosankan.Menurut saya sdh waktunya kita memperbaharui textbook yg kita pakai di sekolah. Sebaiknya Diknas tidak saja memberikan penjelasan dg bahasa Undang-undang kepada tim penyusun buku ajar di sekolah, tp lebih kepada practical sentence. (Saya mencoba mempelajari UU Sisdiknas 2003 dan puyeng juga membayangkan bentuk kongkritnya di lapangan). Bahasa yg dipakai dalam textbook sebaiknya menyesuaikan dg bahasa anak. Guru pun hendaknya memberi kesempatan anak untuk berpendapat lain, mengomentari materi dan pun mendengarkan pendapat temannya. Pembelajaran moral/akhlak bukan dengan memaksa anak menghafal tapi menanyai anak, apa pendapatnya , apa yang sebaiknya mereka kerjakan ? dan fungsi guru hanya meluruskan yang salah juga memberikan penjelasan kenapa itu salah. Guru pun dapat berfungsi sebagai fasilitator. Beberapa anak tentu mempunyai pendapat yang sudah benar, dan ini dapat dijadikan sebagai nara sumber bagi siswa yag lain. Guru harus memberi kepercayaan kepada anak ini untuk menjelaskan pendapatnya.

Begitulah pembelajaran moral yang saya pelajari di kelas dan pun saya amati dalam kunjungan sekolah2 di Jepang.

Menilai Mutu Pendidikan

0 komentar
Ujian itu perlu atau tidak ?

Pertanyaan ini selalu menjadi polemik di negara manapun antara memilih `melaksanakannya atau tidak, atau me-nasionalkannya or me-lokalkannya.

Sistem ujian/ulangan sekolah2 di Jepang menarik untuk kita cermati.
Pendidikan dasar (shougakkou) tidak mengenal ujian kenaikan kelas, tetapi siswa yang telah menyelesaikan proses belajar di kelas satu secara otomatis akan naik ke kelas dua, demikian seterusnya. Ujian akhir pun tidak ada, karena SD dan SMP masih termasuk kelompok compulsoy education, sehingga siswa yang telah menyelesaikan studinya di tingkat SD dapat langsung mendaftar ke SMP.
Lalu bagaimana menilai mutu pendidikan ?

Tentu saja guru tetap melakukan ulangan sekali2 untuk mengecek daya tangkap siswa. Dan penilaian ulangan pun tidak dengan angka tetapi dengan huruf : A, B, C, kecuali untuk matematika. Dari kelas 4 hingga kelas 6 juga dilakukan test IQ untuk melihat kemampuan dasar siswa. Data ini dipakai bukan untuk mengelompokkan siswa berdasarkan hasil test IQ-nya, tetapi untuk memberikan perhatian lebih kepada siswa dengan kemampuan di atas normal atau di bawah normal. Perlu diketahui, siswa2 di Jepang tidak dikelompokkan berdasarkan kepandaian, tetapi semua anak dianggap `bisa` mengikuti pelajaran, sehingga kelas berisi siswa dengan beragam kemampuan akademik.

Compulsory Education di Jepang dilaksanakan dengan prinsip memberikan akses penuh kepada semua anak untuk mengenyam pendidikan selama 9 tahun (SD dan SMP) dengan menggratiskan tuition fee, dan mewajibkan orang tua untuk menyekolahkan anak (ditetapkan dalam Fundamental Law of Education). Untuk memudahkan akses, maka di setiap distrik didirikan SD dan SMP walaupun daerah kampung dan siswanya minim (per kelas 10-11 siswa). Orang tua pun tidak boleh menyekolahkan anak ke distrik yang lain, jadi selama masa compulsory education, anak bersekolah di distrik masing2. Tentu saja mutu sekolah negeri di semua distrik sama, dalam arti fasilitas sekolah, bangunan sekolah, tenaga pengajar dengan persyaratan yang sama (guru harus memegang lisensi mengajar yang dikeluarkan oleh Educational Board setiap prefecture). Oleh karena itu mutu siswa SD dan SMP di Jepang yang bersekolah di sekolah negeri dapat dikatakan `sama`, sebab Ministry of Education menkondisikan equality di semua sekolah. Saat ini tengah digalakkan program reformasi yang memberi kesempatan kepada sekolah untuk berkreasi mengembangkan proses pendidikannya, tetapi tetap saja dalam pantauan MOE.

Di tingkat SMP dan SMA, sama seperti di Indonesia, ada dua kali ulangan, mid test dan final test, tetapi tidak bersifat wajib atau pun nasional. Di beberapa prefecture yang melaksanakan ujian, final test dilaksanakan serentak selama tiga hari, dengan materi ujian yang dibuat oleh sekolah berdasarkan standar dari Educational Board di setiap prefektur. Penilaian kelulusan siswa SMP dan SMA tidak berdasarkan hasil final test, tapi akumulasi dari nilai test sehari2, ekstra kurikuler, mid test dan final test. Dengan sistem seperti ini, tentu saja hampir 100% siswa naik kelas atau dapat lulus.

Selanjutnya siswa lulusan SMP dapat memilih SMA yang diminatinya, tetapi kali ini mereka harus mengikuti ujian masuk SMA yang bersifat standar, artinya soal ujian dibuat oleh Educational Board di setiap prefektur. Di Aichi prefecture, SMA-SMA dikelompokkan dengan pengelompokan A, B. Pengelompokan tersebut dibuat dalam proses memilih SMA. Setiap siswa dapat memilih satu sekolah di kelompok A dan satu sekolah di kelompok B. Jika si siswa lulus dalam kelompok A, maka secara otomatis dia gugur dari kelompok B. Dalam memilih SMA, siswa berkonsultasi dengan guru, orang tua atau disediakan lembaga khusus di Educational Board yang bertugas melayani konsultasi dalam memilih sekolah. Ujian masuk pun hampir serentak di seluruh jepang dengan bidang studi yang sama yaitu, Bahasa Jepang, English, Math, Social Studies, dan Science. Di level ini siswa dapat memilih sekolah di distrik lain.

Seperti dipaparkan di atas, siswa SMA tidak mengikuti ujian kelulusan secara nasional, tetapi ada beberapa prefecture yang melaksanakan ujian. Penilaian kelulusan siswa berbeda di setiap prefecture. Mengingat angka Drop out siswa SMA meningkat di tahun 1990-an, maka beberapa sekolah tidak mengadakan ujian akhir, jadi kelulusan hanya berdasarkan hasil ujian harian.

Untuk masuk universitas, siswa lulusan SMA diharuskan mengikuti ujian masuk universitas yang berskala nasional. Ini yang dianggap `neraka` oleh sebagian besar siswa SMA. Sebagian dari mereka memilih untuk belajar di juku (les privat, seperti di Indonesia) untuk dapat lulus ujian masuk universitas. Ujian masuk PT dilakukan dua tahap. Pertama secara nasional- soal ujian disusun oleh Ministry of education, terdiri dari lima subject, sama seperti ujian masuk SMA-, selanjutnya siswa harus mengikuti ujian masuk yang dilakukan masing2 universitas, tepatnya ujian masuk di setiap fakultas. Skor kelulusan adalah akumulasi ujian masuk nasional dan ujian di setiap PT. Seperti halnya di Indonesia, skor hasil UMPTN tidak diumumkan, tetapi jawaban ujian diberitakan via koran, TV atau internet, sehingga siswa dapat mengira2 sendiri berapa total score yg didapat. Siswa yang memilih Universitas dg skor tinggi, tapi ternyata skornya tidak memdai, dapat mengacu ke pilihan universitas ke-2. Namun jika skornya tidak mencukupi, maka siswa tidak dapat masuk Universitas. Selanjutnya dia dapat mengikuti ujian masuk PT swasta atau menjalani masa ronin (menyiapkan diri untuk mengikuti ujian masuk di tahun berikutnya) di prepatory school (yobikou)

Penilain mutu pendidikan di Jepang, dengan kata lain dilakukan dengan menstandarkan ujian masuk SMA dan PT, tentu saja sistem ini bisa berjalan karena pemerintah di Jepang pun berusaha maksimal untuk menyamakan kondisi public education-nya, dalam arti menyediakan infra struktur yang sama untuk setiap jenjang pendidikan di daerah.

Saat ini gaung autonomy daerah makin kencang di Jepang, seberapa besar tarik ulur antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam sektor pendidikan menjadi salah satu pengamatan yang menarik bagi saya pribadi. Nuansa kebebasan untuk mengembangkan pendidikan berdasarkan potensi dan karakter daerah sangat kental terlihat ketika saya mengunjungi sekolah2 di Jepang.

dari : http://murniramli.wordpress.com/2006/07/29/menilai-mutu-pendidikan/

Sekolah di Jepang

0 komentar
Dari situs : http://murniramli.wordpress.com/2009/01/27/kedatangan-kepala-sekolah-sma-smp-jateng/#comments

Kunjungan ke sekolah-sekolah Jepang yang dilakukan oleh para kepsek mudah-mudahan menyadarkan kita bahwa sebuah sekolah yang menghasilkan lulusan yang baik di Jepang, ruang kelasnya masih berpapantuliskan papan tulis kayu,dengan alat tulis kapur, dan tidak dilengkapi dengan OHP. Bahwa setiap siswa belum mengakses internet secara bebas di sekolah, dan setiap siswa tidak dapat membawa laptop sendiri-sendiri ke sekolah dan bebas mengakses internet. Di seantero Jepang belum ada sekolah semacam ini, sebagaimana yang menjadi kriteria RSBI.

Tetapi tidak berarti bahwa pendidikan anak-anak Jepang tidak menginternasional, dan teknologi serta kecanggihan IT tidak mereka pahami dengan baik. Dengan bangganya kita memamerkan bahwa RSBI di Indonesia sudah memiliki ruang lab canggih, lab bahasa, pelajaran berbahasa pengantar berbahasa Inggris, sementara guru-guru di Jepang dan pemikir di Jepang mengernyitkan dahi, seperti apa gerangan pendidikan ala internasional itu ? Sebab fasilitas sekolah di Jepang diadakan karena memang itu dibutuhkan, dan mereka beranggapan bahwa fasilitas internet yang bebas akses tidak dibutuhkan di sekolah, maka tidak diadakan.

Saya menangkap kesan guru-guru di Jepang dan pemikir pendidikannya yang mendengarkan uraian RSBI agak sulit memahami kelogisannya.

Para pemegang kebijakan di Indonesia barangkali dapat berpikir ulang tentang konsep RSBI ini.Saya yakin bukan pendidikan mercu suar dan bukan pendidikan untuk orang berkantong tebal yang kita usung lewat program RSBI (semoga keyakinan saya benar)

Perenungan mendalam dan rasa keberpihakan kepada anak-anak yang dididik harus kita lakukan. Bahwa pendidikan itu adalah untuk anak-anak, agar mereka menjadi manusia dewasa dan berakhlak di lingkungannya, bukan pendidikan agar negara diakui oleh negara lain sebagai negara maju, atau agar diakui sebagai anggota OECD. Juga bukan barang jualan yang harus dijual mahal kepada rakyat. Pendidikan adalah hak rakyat yang harus dipenuhi pemerintah yang didukung sepenuhnya oleh masyarakat.